Text
Sepatu dahlan
Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging.....
Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku.... Sungguh, aku butuh tidur. Sejenak pun bolehlah. Supaya lapar ini terlupakan ....
Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Baginya, rasa perih karena lapar adalah sahabat baik yang enggan pergi. Begitu pula dengan lecet di kakinya, bukti perjuangan dalam meraih ilmu. Ya, dia harus berjalan puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Tak hanya itu, sepulang belajar, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya demi sesuap tiwul. Mulai dari nguli nyeset, nguli nandur, sampai melatih tim voli anak-anak juragan tebu.
Semua itu tak membuat Dahlan putus asa. Tak juga berarti keriaan masa kanak-kanaknya hilang. Ketegasan sang Ayah serta kelembutan hati sang Ibu, membuatnya bertahan. Persahabatan yang murni menyemangatinya untuk terus berjuang. Dan apa pun yang terjadi, Dahlan terus berusaha mengejar dua cita-cita besarnya: sepatu dan sepeda.
"....membangkitkan semangat setiap orang yang membacanya....."
-Andy F. Noya, host Kick Andy
"Wajib baca bagı yang ingin belajar menikmati fluktuasi kehidupan dengan berguru pada seseorang yang memang layak dijadikan sumber inspirasi."
-Tina Talisa, presenter dan jurnalis TV
"Dahlan Iskan adalah contoh nyata seorang Authentic Leader... Novel ini membuat kita memahami latar terbentuknya sosok istimewa tersebut."
-Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ Leadership Center
Tidak tersedia versi lain